travel

[travel][threecolumns]

review

[review][twocolumns]

Apakah Saya Harus #uninstallgojek Juga?

Heboh hashtag #uninstallgojek di kalangan netijen ini disebabkan karena salah satu petinggi Gojek yang mendukung LGBT, atau Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender.

Foto: Instagram Gojek Indonesia

Telusur punya telusur, ternyata yang mengungkapkan dukungan LGBT adalah bersama  Brata Santoso, ia merupakan salah satu petinggi di Gojek dengan jabatan Vice President sejak Februari 2018. Beredar tangkapan layar (screenshoot) postingan mendukung LGBT, namun postingan tersebut sudah tidak ditemukan setelah di akun Linkedin maupun Facebook Brata Santoso.



Gojek-pun merespon persoalan ini dengan membagikan sebuah postingan berikut: 

GO-JEK menjunjung tinggi keberagaman yang menciptakan persatuan dan keharmonisan, sejalan dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia, yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. 

Dalam postingan yang dicuitkan Gojek tersebut, menurut saya cukup bertolak belakang dengan apa yang sedang dialaminya soal mendukung LGBT. LGBT sendiri bertolak belakang dengan nilai-nilah dan budaya Indonesia.

Perilaku LGBT  akan mendorong hadirnya pemahaman yang menyimpang tentang seksualitas. Dikatakan menyimpang karena tidak dapat menyatukan antara keinginannya dengan prinsip-prinsip dasar kehidupan, sehingga terjadi gangguan keberfungsian sosial. Faktanya, tidak ada satu pun agama, nilai kemanusiaan, atau nilai kemanfaatan manapun yang membenarkan perilaku demikian. (Baca: LGBT dalam Perspektif Hukum di Indonesia).

Kembali kepada hashtag #uninstallgojek, jika memang secara organisasi atau personal dalam polemik ini, lalu para penolak LBGT langsung  menyerukan untuk uninstall aplikasi Gojek adalah hal yang kurang bijak.

Gojek sendiri sebagai sebuah plarform dan bahkan sekarang sudah menciptakan ekosistem, yang ternyata memiliki dampat positif untuk banyak masyarakat di Indonesia.



Apa pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini?

  1. LBGT di masyarakat luas Indonesia masih menjadi polemik yang kontroversial, ada kalangan yang pro dan juga tidak sedikit yang kontra dengan LGBT.
  2. Sebagai karyawan sebuah perusahaan, kita harus berhati-hati dan bijak menggunakan media sosial, terutama dengan issue yang sensitif. 
  3. Perusahaan dalam hal ini harus tetap mengedepankan kepentingan dan nilai-nilai yang dianut masyarakat untuk bisa semakin tumbuh bisnisnya ke depan.


Imam Mahmudi

Creativepreneur, Techno and Travel Blogger | Digital Media Enthusiast

Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

Tidak ada komentar :


tekno

[tekno][threecolumns]

video

[video][grids]