travel

[travel][threecolumns]

kuliner

[kuliner][twocolumns]

Dedy Jaya Itu Siapa Sih...?


Tiba-tiba gue pengin cari tau tentang Dedy Jaya, pasti lu pernah denger nama ini. Ya! Bis Dedy Jaya, antar kota antar provinsi, biasanya rute Jakarta - Tegal - Pekalongan.

Hari ini Minggu (18/9) gue punya tugas ngawal nyokap ke kampung di Pemalang, berangkat dari rumah jam 6.00, kami naik Bis karena emang SIM gue mati, dan mobil juga dipake bokap, kami naik Bis dari Molek, semacam pool bis kecil di Pondok Gede. Bis yang gue naikin adalah Bis Dedy Jaya jurusan Pekalongan. Jam 6.30 bis pun berangkat, walaupun kursi penumpang cuman terisi 16 orang, termasuk gue dan nyokap.

"Wah! Kalo cuman segini pasti bakal lama dijalan nyari penumpang nih...", kata gue dalem ati.

Ternyata enggak bis ini gak nyari penumpang lagi, langsung masuk tol Cikampek dari Jatiwaringin. Berani juga nih bis, cuman 16 penumpang, dan langsung jalan, dan ini bis AC dan bagus lagi.

Perjalanan kami lancar, bahkan gue sering banget tidur di bis, maklum malemnya begadang dan pagi langsung capcus, belum sarapan lagi.....

Gue udah gak begitu ngantuk, dan ternyata udah sampe Brebes. Lirik kanan-kiri sepanjang Brebes, gue liat ada Showroom, Hotel, bahkan sampe Rumah Sakit dengan nama Dedy Jaya. Sampe di rumah nyokap di Pemalang, penasaran juga gue sama Dedy Jaya langsung gue gugling tentang siapa Dedy Jaya. Cekidot! Menarik dan Inspiratif, cuy...!


--------------------------------

Muhadi Raja Bus dari Brebes
sumber: http://bit.ly/oyaFBT  

Kerja keras mengubahnya dari kondektur bus menjadi juragan bus. Selain memiliki 200 armada bus, ia juga mempunyai SPBU, pabrik es, toko bahan bangunan, hotel dan pusat belanja. Bagaimana ia membangun kerajaan bisnisnya?

Jangan ragu bermimpi. 

Siapa tahu, nasib membawa kita seperti Haji Muhadi, 42 tahun, warga Desa Cimohong, Brebes. Dulu, semasa menjadi kondektur bus, lulusan Tsanawiyah (setingkat SMP) ini bermimpi memiliki sejumlah armada bus sendiri, tak lagi bergelantungan di dalam bus.

Impian itu terus mengikuti langkah anak petani ini. Bahkan ketika menikah dengan seorang putri tentara, Muhadi tetap ingin mewujudkan cita-cita itu. Namun, karena hanya mendapat modal dari orang tua sebesar Rp 400 ribu dan kredit BRI yang tidak terlalu besar, Muhadi dan istri baru bisa mewujudkannya dengan berjualan bahan bangunan tahun 1980-an. 

Awalnya, cuma jual bambu dan kayu, cerita Sudirman, karib lama Muhadi yang kini bekerja dengannya.

Karena Muhadi sangat tekun dan mau bekerja keras, usaha bahan bangunannya melaju pesat. Tetangganya, Haji Rachim, karena menyaksikan ketekunan Muhadi, tergerak menawarkan bantuan mencarikan pinjaman kredit untuk menambah usaha. Persisnya tahun 1989, Muhadi menerima kucuran kredit dari Bank Swaguna sebesar Rp 400 juta, yang digunakan untuk membeli 8 unit bus bekas seharga Rp 120 juta/unit. Bus yang dinamai sama dengan toko bangunannya, Dedy Jaya, yang diambil dari nama putra pertamanya, inilah kemudian yang menjadi cikal bakal kerajaan bisnisnya sekarang. Dari 8 bus yang mengambil trayek Tegal-Jakarta (PP) tahun 1989, kini berkembang menjadi 200-an, di antaranya merupakan bus malam. 


Dalam menjalankan usaha, Muhadi hanya mengandalkan kejujuran, ketekunan dan kerja keras. 


Moto hidupnya 10-K, yakni kerja keras, keberanian, kemandirian, kecepatan, ketelitian, keadilan, kejujuran, kerendahan hati dan kesederhanaan. 

Kerja keras, bagi Muhadi, bukan hal istimewa. Baginya, bekerja dari Subuh hingga larut malam, tidak masalah. Asal badan sehat, ia setiap hari memulai kerja pukul 6 pagi. Selepas shalat subuh dan berolah raga sepeda, ia biasanya pergi ke garasi busnya di Cimohong, sekitar 200 meter dari tempat tinggalnya. 

Setelah mengontrol aktivitas di tempat yang penuh dengan oli tersebut, ia pulang sebentar ke rumah, meneruskan pekerjaan dengan mengunjungi berbagai tempat usahanya: dari toko material, pabrik es Dian Sari, tambak, SPBU, Plaza Brebes, hotel, apotek, dan kembali ke kantornya di Plaza Dedy Jaya. 


Setiap hari beliau selalu mengontrol seluruh pekerjaan, sore harinya berinteraksi dengan karyawan, papar Sudirman. Bahkan, saking tekunnya bekerja, Muhadi hampir tidak pernah meninggalkan pekerjaan. Seingat dia, selama menjalankan usaha, Muhadi hanya tiga kali mengambil cuti. Pertama, ketika naik haji, saat liburan ke Eropa selama 13 hari, dan yang terakhir, awal Agustus lalu ke Bali. Pak Muhadi nggak pernah istirahat, lanjutnya.

Pekerjaan Muhadi memang membutuhkan kontrol yang ketat. Apalagi, bisnis transportasi bus memerlukan kecermatan dan perhitungan matang. Diceritakan Sudirman yang bekerja di pul Dedy Jaya, pihaknya berhadapan dengan banyak hal. Selain menghadapi premanisme di jalan, juga harus bisa mengelola sopir, kondektur, dan kernet dengan baik, serta menjaga kondisi bus agar terawat.

Liku-liku terjun ke bisnis jasa bus antarkota ini amat rumit dan persaingannya kurang sehat. Belum lagi jika terjadi bus tabrakan, sopir nakal, atau kendaraan rewel, dan sebagainya. Semuanya harus bisa diantisipasi dengan baik, ujar Sudirman. Untuk masalah di lapangan, ia berusaha menyelesaikan sendiri. Jangan sampai masalahnya ke meja bos. Tidak enak, beliau masih punya banyak masalah lain, ujarnya. Ia menganggap tidak etis jika melepaskan tanggung jawabnya kepada pimpinan.


Yang digariskan Muhadi kepada anak buahnya: harus memberi pelayanan terbaik. Setidaknya, bus harus tersedia cukup banyak dan kondisinya harus baik alias layak jalan. Untuk itu, ia tidak segan-segan terus menambah armada baru guna memenuhi permintaan pasar. Selain itu, 3-4 tahun sekali ia melakukan peremajaan dan membeli kendaraan baru. Maka, tak heran, 14 tahun di jalanan, Dedy Jaya terus memimpin pasar. Bahkan, berhasil menyalip pemain terdahulu, seperti Sinar Baru. 



Begitulah mengelola bus. Memang rumit dan pelik, tapi keuntungannya menggiurkan. Coba saja, jika pendapatan setiap bus Rp 750 ribu/hari, maka kalau ada 170 kendaraan beroperasi setiap hari 15%-nya istirahat berarti pendapatannya Rp 130-an juta/hari atau sekitar Rp 4 miliar/bulan. Jumlah ini memang belum dihitung untuk biaya operasional, seperti ganti oli dan ganti ban, tapi sebagai pendapatan, jelas istimewa.

Dengan keuntungan sebesar itu, tak heran Muhadi tergerak merambah bisnis lain. Dengan kelihaiannya melobi orang-orang Pertamina, ia berhasil mendapatkan surat izin usaha membuka SPBU dari BUMN tersebut. Menurutnya, di dunia bisnis, menjaga hubungan baik menjadi hal yang teramat penting untuk membangun jaringan jangka panjang. Setidaknya, itu alasan kenapa ia mudah membuka bisnis SPBU.

Sekarang ada tiga SPBU miliknya di wilayah Brebes dan Tegal. Bisnis yang membutuhkan investasi hingga Rp 3 miliar itu, dibanding bisnis-bisnis lainnya, masih tergolong baru, sehingga belum menguntungkan. Toh, Muhadi punya banyak mainan lain. Di antaranya, hotel, showroom mobil dan motor, bengkel, kapal ikan, pabrik es batu, dua rumah makan, apotek, toko bahan bangunan, dan sebentar lagi ia akan membangun Rumah Sakit Dedy Jaya di Kota Brebes.

Muhadi mulai membangun hotel pada 1998. Hotel yang juga dinamai Dedy Jaya ini merupakan hotel pertama di Kabupaten Brebes. Meskipun merupakan hotel Melati, cukup menjadi kebanggaan masyarakat Brebes. Setiap hari, setidaknya, hampir seluruh (30) kamar terisi. Tentang hotelnya ini, Muhadi berkata merendah, Ah, cuma hotel kelas tiga kok, kelas melati."

Di sektor ritel, Muhadi memasukinya lewat dua gerai pusat belanja Plaza Dedy Jaya, di Tegal dan Brebes. Ia mulai membangun bisnis ini tahun 1997. Alasannya tertarik di bisnis ini, ingin bersaing dengan warga keturunan yang pandai berbisnis. Alhasil, dengan menggelontorkan modal investasi Rp 20 miliar, ia yakin, usaha ritelnya bisa menghasilkan keuntungan dalam waktu 8 tahun. Salah satu faktor yang membuatnya optimistis adalah kerja sama yang baik dengan para tenant selama ini. 

Untuk mendukung seluruh usahanya, Muhadi dibantu keluarga dan teman-teman dekat. Kini, selain memiliki kantor yang luas di Plaza Dedy Jaya, ia punya 30-an kendaraan untuk kegiatan operasional dan keperluan pribadi. Di antaranya, beberapa Mercedes-Benz. Maka, tak berlebihan, seorang warga Brebes mengatakan, Muhadi adalah warga Brebes yang paling kaya dan berhasil saat ini. Sebagai warga Brebes, kami bangga pada Pak Muhadi, ujarnya meyakinkan.

Yang lebih membanggakan, meskipun kaya raya, Muhadi tetap tampil sederhana. Saking sederhananya, tidak banyak orang bahkan karyawannya  yang mengenalinya, meskipun setiap hari suami Ati Sri Subekti ini muncul di plaza miliknya. Masyarakat Brebes hanya tahu nama Dedy Jaya, sementara nama dan sosok Muhadi tak pernah mencuat ke permukaan. Biasanya beliau memang berpakaian sederhana, sehingga jarang yang mengenalinya, ujar seorang karyawannya tentang penampilan Muhadi.

Pernah gagalkah Muhadi?
Dua kali saya gagal di bisnis kapal ikan. Tapi, saya akan coba lagi. Jika sudah tiga kali gagal, ya serahkan pada-Nya, tutur Muhadi yang juga gagal membangun bisnis bawang. 
Baginya, tidak ada kata menyerah. Ia akan terus maju mencari peluang bisnis. Justru kegagalan-kegagalan itu menantang dan menggairahkan hidupnya.

Keluarga juga menjadi penyemangat hidupnya. Bahkan, keluargalah inspirasi bisnisnya. Hal itu tergambar dalam nama usahanya, yang selalu diambil dari nama putra-putrinya. Selain Dedy yang diambil dari nama anak pertama, nama restoran dan pabrik esnya juga diambil dari nama putrinya, Dian sari dan Yanti Dian Anggarini. Kepada putra-putrinya yang masih bersekolah itu, ia berpesan, lebih baik menjadi orang sukses ketimbang orang pintar. Orang pintar belum tentu sukses, tapi orang sukses sudah pasti pintar, ujar Muhadi, yang kini tengah mempersiapkan putra pertamanya mengambil S-2 di luar negeri.



Mall Dedy Jaya
Imam Mahmudi

Creativepreneur, Techno and Travel Blogger | Digital Media Enthusiast

Komentar di bagian Facebook ya!
  • Blogger Menggunakan Akun Blogger
  • Facebook Menggunakan Akun Facebook
  • Disqus Menggunakan Disqus

385 komentar :


tekno

[tekno][threecolumns]

video

[video][grids]